Jeni adalah seorang dokter muda yang baru saja menamatkan pendidikan dokternya pada sebuah universitas ternama di Jakarta. Sebagaimana dokter baru ia harus menjalani masa ptt pada sebuah desa di daerah itu. Orang tua dan tunangannya keberatan jika Jeni melaksanakan ptt di daerah itu, selain jauh dari kotanya dan daerah itu masih terbelakang dan terisolir. Orang tua Jeni sangat keberatan dan ia mengupayakan agar Jeni ditempatkan pada daerah yang dekat dan tidak terisolir itu. Upaya orang tuanya ini gagal karena telah menjadi keputusan instansi pusat dan tidak dapat di batalkan.
Kekuatiran orang tua dan tunangannya amat beralasan, karena Jeni adalah masih muda dan belum mengetahui seluk beluk masyarakat desa itu, ditambah kerasnya kehidupan di desa yang terkenal dengan kebiasaan masyarakatnya yang primitif itu. Selain itu Jeni akan menikah dengan hendra tunangannya beberapa bulan lagi. Memang Jeni dan hendra telah lama pacaran dan kedua orang tua mereka merestui hubungan mereka.
Jeni adalah seorang gadis yang masih berumur 22 tahun merupakan mahasiswa kedokteran yang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan, sehingga tdk heran ia dalam waktu yang singkat telah menamatkan kuliahnya. Selain itu ia berparas cantik, memiliki sosok yang membuat lawan jenisnya ingin mendapatkannya, namun hatinya telah jatuh kepada hendra yang merupakan pria yang gigih mendapatkannya, hingga ia mau di pertunangkan dengan nya.hendra adalah seorang pria yang telah memiliki kehidupan yang mapan pada sebuah tempat kuliah, selain itu ia anak dari sahabat ayah Jeni. Selama mereka pacaran hanya diisi dengan makan malam dan kadang nonton. Mereka berdua tidak pernah melakukan hal yang bertentanggan dengan adat dan agama, sebab masingmasing menyadari suatu saat akan mendapatkannya juga nantinya.
melalui poerjalanan yang melelahkan Jeni dengan diantar ayahnya dan hendra didesa itu. Perjalanan dari kotanya memakan waktu selama 1 hari perjalanan ditambah jalan yang amat rusak dan setapak. Didesa itu Jeni di sambut oleh perangkat desa itu dan kepala dusun. Dengan sedikit acara, barulah Jeni resmi bertugas. Lalu ayahnya dan hendra pulang ke kota besoknya setelah mewantiwanti Jeni untuk berhatihati.
Hari pertama ia bertugas Jeni dibantu oleh kader kesehatan yang bertugas penunjuk jalan. Jeni menempati salah satu rumah milik kepala dusun yang bernama pak hendra. Pak hendra amat disegani dan ia termasuk orang kaya didesa itu. Umurnya sekitar 67 tahun dan memiliki 3 orang istri. Pak inipun sering meminjamkan sepeda motornya kepada Jeni untuk tugastugasnya, kadangkadang ia sendiri yang memboncengkan Jeni saat Jeni ingin ke desa sebelah. Bagi Jeni keberadaan Pak hendra ini amat membantunya di saat ia hampir putus asa melihat lingkungan desa yang hanya terdiri dari hutan dan jalan yang hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor.
Karena sering diantar kedesa desa lainnya, seringkali tanpa disadari oleh Jeni telah membuat pak hendra menaruh rasa ingin memiliki dari diri paka Taba, apalagi jika dalam berboncengan seringkali dada Jeni yang montok itu bersentuhan dengan punggung paka hendra. Sebagai lakilaki normal iapun merasakan ingin yang lebih jauh lagi. Jeni merasa ia tak bisa bertugas jika tanpa dibantu pak hendra.
Suatu hari saat pulang dari desa tetangga, mereka kehujanan dan hari saat itu hujan turun dengan derasnya.Lalu dengan buruburu pak hendra mempercepat kendaraannya , secara otomatis Jeni memegang pinggang pak Taba dengan erat dan dalam suasana itu pak hendra dapat merasakan kehangatan dan sentuhan dada Jeni dengan nyata. Lalu mereka sampai di kediaman Jeni yang merupakan juga rumah milik pak hendra. Sesampai didalam rumah, Jeni masuk kekamar dan mengganti pakaiannya dengan kimono handuk, sedang pak hendra ia pinjami handuk untuk ganti pakainan yang basah itu.
Saat Jeni berganti pakaian tadi pak hendra mengintipnya dari celah pintu kamar itu. Jakunnya naik turun karena melihat kehalusan dan kemulusan kulit tubuh Jeni seluruhnya. Dengan langkah pasti ia duduk di ruang tengah rumah itu karena diluar hari hujan.
Wah, hujannya deras sekali pak. kata Jeni,
Bagaimana jika nginap disini saja pak.
Ooooo.. terima kasih bu. Kalau hujan reda saya akan pulang terang pak hendra.
Baiklah pak jawab Jeni.
Lalu Jeni kedapur dan membuatkan kopi untuk pak hendra.
Pak, ini kopinya …
Wah kopi bisa begadang saya malam ini buk.
O.. ya.. pak .. apa perlu saya ganti dengan teh hangat? jawab Jeni.
Ohh nggak usah buk.. ini juga nggak apa. timpal pak Taba, sambil memandang kearah Jeni.
Hingga saat itu hujan belum reda dan paka hendra terpaksa nginap di rumah itu. Jeni terus menemani paka hendra ngobrol tentang pekerjaan hingga rencana ia akan menikah. Pak hendra mendengarnya dengan penuh perhatian dan sesekali mencuri pandang dada Jeni. Jeni tak enak hati jika ia meninggalkan pak hendra sendirian malam itu karena pak Taba telah banyak membantunya. Sedang matanya mulai ngantuk. Sedang hiburan di rumah itu tidak ada karena tidak adanya jaringan televisi. Melihat Jeni yang mulai ngantuk itu lalu pak hendra menyuruh Jeni tidur duluan.
Bu, tidur aja dulu biar saya diluar sini.
Wah saya nggak enak ni pak masa pak hendra saya tinggal. Jeni memaksakan dirinya untuk terus ngobrol hingga jam menunjukan pukul 9 00 wib yang kalau didesa itu telah larut ditambah hujan deras.
Dari tadi pak hendra terus memperhatikan Jeni karena suasana malam itu membuatnya ingin mengambil kesempatan terhadap Jeni dengan tidak menampakkan keinginannya.
Padahal saat itu tanpa di sadari Jeni pak hendra telah duduk disamping Jeni.
Bu Jeni.., dingin ya buk.. kata pak hendra.
Ya pak, sahut Jeni.. dengan pasti pak hendra, meraih tangan
Jeni
Ini buk, saya pegang tangan ibu ya.., biar dinginnya hilang. bisik Pak hendra.
Jenipun membiarkan pak hendra meraih tangannya, memang ada hawa hangat yang ia rasakan. Lalu pak hendra melingkarkan tangannya di bahu Jeni dan mengelus balik telinga Jeni, padahal itulah daerah sensitif Jeni. Kepala Jeni lalu rebah di bahu pak hendra dan seperti sepasang kekasih pak hendra terus meransang daerah peka di tengkuk dan bahu Jeni.
Jenipun meresapi usapan dan elusan lembut lakilaki yang seusia dengan ayahnya itu, matanya hanya merem melek. Mungkin karena suasana dan cuaca yang dingin membuat Jeni membiarkan tindakan hendra itu. Pak hendra lalu berdiri, dan menarik tangan Jeni hingga berdiri. Jeni menurut, lalu ia tuntun kekamar yang dan menyilahkan Jeni berbaring.
Bu, tampaknya ibu capai. kata pak Taba.
Ya pak.. kata Jeni.
Pak hendra keluar kamar dan mengunci pintu rumah itu dan memeriksa jendela, lalu ia masuk kekamar Jeni kembali sambil menguncinya dari dalam. Ia sudah tidak sabar ingin menggauli Jeni yang telah menjadi obsesinya selama ini malam itu.
Pak hendra berjalan kearah Jeni, yang saat itu duduk ditepian ranjang.
Pak.. koq di kunci? tanya Jeni.
Biasalah bu, jika malam hujan begini kan biar hawa dingin nggak masuk timpal pak Taba.
Bagaimana bu apa masih Dingin? tanyanya.
Iya pak angguk Jeni.
Baiklah buk bagaimana jika saya pijitin kepala ibu itu biar segar. kata pak hendra
Silahkan pak jawab Jeni.
Lalu Jeni duduk membelakangi pak hendra dan pak hendrapun naik ke ranjang itu dengan memijit kepala dan tengkuk Jeni. Padahal yang dilakukannya adalah meransang Jeni kembali untuk bisa mengusainya. Sebagai lakilaki berpengalaman tidaklah susah bagi Pak Taba untuk menaklukkan Jeni, yang ia tahu belum begitu tau tentang dunia sex dan lakilaki.
Dengan gerakan lembut dan pasti usapan tangannya mulai dari tengkuk hingga balik telinga Jeni.
Jeni menutup matanya menikmati setiap gerakan tangan pak hendra. Dari dekat pak hendra dapat merasakan dan menikmati kehalusan kulit Jeni. Beberapa saat lamanya pijitan hendra itu telah turun ke punggung dan diluar kesadaran Jeni kimononya telah turun dari bahunya dan yang tinggal hanya Bh yang menutup payudaranya. Bh itupun dengan kelincahan tangan pak hendra jatuh dan sempat dilihat pak taba bernomor 34b. Masih dari belakang gerakan tangan pak taba lalu meremas payudara Jeni. Jeni sadar dan menahan gerakan tangan Pak hendra..
Sudah pak, jangan lagi pak sambil memakai kimononya kembali sedang bhnya telah terjatuh.
Pak hendra kaget dan ia memandang mata Jeni, ada nafsu tertahan, namun ia harus mulai memasang strategi agar Jeni, kembali bisa ia kuasai.
Maaf bu.., kalau tadi saya lancang. kata pak hendra.
Jeni diam saja. Sedang saat itu pak hendra hanya selangkah lagi bisa mengusai Jeni. Lalu pak Taba berjalan keluar dan ia tinggalkan Jeni. Kemudian ia balik lagi kekamar itu, dan duduk disamping Jeni, pakaian Jeni saat itu acakacakan.
Bu, apa ibu marah? tanaynya.
Tidak pak tapi sayalah yang salah. Padahal selama saya pacaran dan tunangan belum pernah seperti ini. terang Jeni.
Pak hendra manggutmanggut mendengar perkataan Jeni.
Cuaca malam itu tetap hujan deras dan dingin udara terus menusuk tulang, pak hendra mengerti jika Jeni khawatir sebab ia masih perawan, namun tekadnya sudah bulat bahwa malam itu Jeni harus bisa ia gauli.
Dalam kebiusan sikap Jeni saat itu, pak hendra kembali meraih tangan Jeni dan menciumnya, Jeni diam membisu, lalu pak hendra memeluk Jeni dan tidak ada penolakan dari Jeni, Rupanya Jeni saat tadi telah bangkit birahinya namun karena ingat akan statusnya maka ia menolak pak hendra. Dijari Jeni memang melingkar cincin tunangan dan pak hendra tidak memperdulikannya.
Dengan kelihaiannya, kembali Jeni larut dalam pelukan dan alunan nafsu yang di pancarkan lakilaki desa itu. Sekali sentak maka terbukalah kimono Jeni, hingga terbuka seluruh kulit tubuhnya yang mulus itu, tanpa bisa ditolak Jeni.Dengan penuh nafsu pak hendra memilin dan membelai dada putih itu hingga memerah dan dengan mulutnya ia gigit putingnya. Keringat telah membasahi tubuh Jeni dan membuatnya pasrah kepada pak hendra.
Sebelah tangan hendra turun dan merongoh cd Jeni dan memasuki lobang itu yang telah basah. Lalu ia buka dan tubuh Jeni ia baringkan. Ia amat bernafsu sekali melihat belahan vagina Jeni yang tertutup oleh sedikit bulu halus.
Pak hendrapun lalu membuka baju dan cdnya, hingga mereka samasama bugil diatas ranjang itu. Penis hendra amat panjang dan besar. Jeni saat itu tidak tahu apaapa lagi.
Pak hendrapun lalu membuka kedua kaki Jeni dan mengarahkan penisnya kebelahan vagina Jeni.
Beberapa kali meleset, hingga dengan hatihati ia angkat kedua kaki Jeni yang panjang itu kebahunya, dan barulah ia bisa memasukan kepala penisnya.
Aduhhhhhh pak.. aughhhhghhhhh ghhh sakit pak jerit Jeni. Pak hendra lalu menarik penisnya kembali. Lalu dengan mulutnya ia beri air ludah ke pinggiran lobang vagina itu biar lancar. Kemudian ia ulangi memasukan penisnya. Dengan hati2 ia dorong masuk dan kepala penis masuk
Auuuuuggggkkkk jerit Jeni.
Sebentar bu kata Pak hendra.
Nanti juga hilang sakitnya buk terangnya lagiSekali hentak maka seluruh penisnya masuk dan ia maju mundurkan. Padahal saat itu Jeni merasa dilolosi tulangnya. ia gigit bibir bawahnya menahan rasa nyilu dan sakit saat penetrasi tadi.Pak hendra telah berhasil merobek selaput dara Jeni, hingga kelihatan tetesan darah di paha mulus Jeni saat itu dan membasahi sprey yang kusut.
Tangan pak hendrapun terus memilin payudara Jeni dan kembali menahan pinggul Jeni. Lebih kurang 20 menit ia maju mundurkan penisnya kedalam vagina Jeni sedang Jeni telah 2 kali orgasme, barulah ia muntahkan spermanya didalam rahim Jeni. lalu ia tetap diam diatas tubuh Jeni. Terlihat ketika itu, tubuh putih mulus Jeni berada dibawah tubuh pak hendra yang masih membelai dada dan menjilat bibir dan lidah Jeni. Kedua tubuh manusia itu penuh keringat. Di sudut mata Jeni ada air mata karena keperawanannya telah hilang bukan karena tunangannya tapi oleh lakilaki tua itu.
Ia tidak punya pilihan lain karena telah terlanjur di setubuhi Pak hendra. Hingga menjelang pagi pak hendra kembali mengulang permainan sex itu dengan Jeni, hingga Jeni merasakan kenikmatan dan mengetahui rahasia dalam permaianan dewasa. hendra tidak ia ingat lagi dan saat itu ia terbelenggu oleh gairah dan nafsu yang di berikan pak hendra.
Sejak saat itu, hub kedua insan yang berbeda umur sangat jauh itu terus berlangsung di rumah itu , kadangkadang di gubuk milik pak hendra di tengah hutan daerah itu. Jeni merasa heran karena lakilaki seumur pak hendra masih memiliki stamina yang prima dalam berhubungan. Tidak heran jika pak hendra memiliki 3 orang istri dan memiliki 3 orang anak yang telah dewasa.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar